Bali dikenal bukan hanya karena keindahan alam dan tradisinya, melainkan juga karena kekayaan sastra lisan maupun tulisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu warisan sastra Bali yang sangat penting adalah gegúrítan, yaitu karya sastra berbentuk tembang macapat yang sarat makna filosofis, historis, dan spiritual. Dalam tradisi Bali, geguritan tidak sekadar bacaan, tetapi juga menjadi pedoman moral, sumber pengetahuan agama, serta media pengikat kebersamaan dalam upacara adat.
Di antara sekian banyak karya geguritan, terdapat sebuah karya bernilai luhur berjudul “Geguritan Galungan”. Karya ini menguraikan makna mendalam dari hari suci Galungan, sebuah perayaan besar umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap 210 hari sekali dalam perhitungan kalender pawukon. Geguritan ini tidak hanya menuturkan dudonan (rangkaian) upacara Galungan, melainkan juga menyingkap lapisan filosofis, spiritual, dan kosmologis yang terkandung di baliknya.
Buku “Geguritan Galungan” tersusun dalam empat bagian utama yang disebut palet, serta didahului dengan purwaka sebagai pembuka. Tiap bagian menggunakan pupuh-pupuh tradisional seperti Sinom, Ginada, Jayendra, hingga Semarandhana, yang masing-masing memiliki watak berbeda dan dipilih sesuai dengan nuansa cerita yang dibawakan.

Berikut ini uraian lebih dalam mengenai struktur, isi, dan makna yang terkandung dalam geguritan tersebut.
PURWAKA: Pupuh Sinom, Jayendra
Purwaka dalam “Geguritan Galungan” berfungsi sebagai pengantar, ditulis dalam pupuh Sinom dan Jayendra. Sinom biasanya digunakan untuk memberikan nasihat dan ajaran moral, sehingga sangat tepat dijadikan pembuka. Jayendra, di sisi lain, bernuansa agung dan heroik, menegaskan bahwa kisah yang diuraikan bukan sekadar cerita biasa, melainkan tuntunan suci.
Dalam bagian purwaka, penulis geguritan menyampaikan tujuan utama dari karya ini: memberikan pemahaman bahwa hari raya Galungan bukan hanya ritual, melainkan momentum kebangkitan dharma melawan adharma. Sejak awal pembaca diingatkan bahwa karya ini harus dimaknai dengan hati yang bersih, agar pesan moral dan spiritualnya benar-benar terserap.
PALET I: Durga Puja Purana, Nawa Ratri – Wijaya Dasami – Dipawali Ring Bharatawarsa
(Pupuh Ginada, Ginanti, Mas Kumambang, Pangkur, Durma)
Palet pertama menggali hubungan antara Galungan dengan kisah-kisah suci dalam tradisi Hindu India, khususnya Durga Puja, Nawa Ratri, Wijaya Dasami, hingga Dipawali. Melalui pupuh-pupuh yang beragam, geguritan menegaskan bahwa tradisi Galungan di Bali memiliki akar yang sama dengan perayaan kemenangan dharma di Bharatawarsa (India).
- Ginada dan Ginanti digunakan untuk menyampaikan ajaran dengan alur yang tenang namun penuh makna filosofis.
- Mas Kumambang melambangkan kehalusan rasa, seakan mengajak pembaca merenungkan hubungan antartradisi.
- Pangkur dan Durma bernuansa tegas, dipakai untuk menekankan semangat perjuangan melawan adharma, seperti kisah kemenangan Dewi Durga melawan asura, atau kisah Rama yang berhasil menundukkan Rahwana.
Bagian ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan spiritual Bali dengan tradisi Hindu di India. Galungan, dengan demikian, bukan hanya perayaan lokal, melainkan bagian dari perayaan universal kemenangan kebaikan.
PALET II: Rahinan Jagat Galungan Dharma Jaya ring Nusantara
(Pupuh Sinom, Jayendra, Ginada, Durma, Pangkur, Semarandhana, Mas Kumambang)
Palet kedua membawa pembaca kembali ke konteks Nusantara, khususnya Bali. Dalam pupuh-pupuh yang beragam, geguritan menjelaskan bagaimana hari raya Galungan dipahami oleh masyarakat sebagai hari kemenangan dharma.
- Sinom dan Jayendra kembali menekankan pesan moral bahwa Galungan adalah waktu menyucikan diri.
- Ginada menggambarkan suasana damai desa-desa Bali menjelang Galungan: keluarga membersihkan pura, menghias rumah dengan penjor, serta membuat lawar dan jajan khas.
- Durma dan Pangkur menghadirkan nuansa semangat, menggambarkan bahwa Galungan adalah momen melawan kegelapan dalam diri sendiri.
- Semarandhana menghadirkan kesyahduan doa dan pemujaan.
- Mas Kumambang memberikan kehalusan perasaan, menggambarkan kebersamaan keluarga dan rasa syukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi.
Palet ini sangat penting karena menunjukkan bagaimana Galungan di Bali bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan sebuah momentum spiritual kolektif. Ia menjadi hari suci yang menyatukan keluarga, desa, dan seluruh umat dalam getaran dharma.
PALET III: Dudonan Mwang Undag Rahinan Galungan
(Pupuh Dangdang Gula, Sinom, Ginanti, Ginada, Adri, Jayendra, Bhramara Ngisep Sari, Pucung)
Palet ketiga menyoroti dudonan atau tata cara pelaksanaan upacara Galungan. Setiap pupuh dipilih sesuai dengan karakter tahapan upacara.
- Dangdang Gula dipakai untuk menggambarkan kegembiraan suasana menyambut Galungan.
- Sinom dan Ginanti menguraikan nasihat agar setiap langkah upacara dilakukan dengan kesungguhan hati.
- Ginada dan Adri menghadirkan nuansa damai dalam prosesi.
- Jayendra menegaskan kembali keagungan dharma.
- Bhramara Ngisep Sari menghadirkan kelembutan dan kedalaman rasa, seolah-olah setiap tahapan adalah tarikan napas spiritual.
- Pucung menutup dengan nada ringan, menggambarkan kegembiraan anak-anak yang turut serta dalam tradisi.
Dalam bagian ini, digambarkan secara detail bagaimana umat menyiapkan penjor, simbol gunung dan kemakmuran, serta sarana upacara lainnya. Juga dijelaskan bagaimana keluarga berkumpul, berdoa di merajan, serta melakukan persembahyangan bersama di pura. Dudonan ini menjadi perwujudan nyata dari filosofi dharma yang telah dijelaskan sebelumnya.
PALET IV: Tatwa Mwang Kasuksman Dharma Jaya Galungan
(Pupuh Sinom, Ginada, Semarandhana, Jayendra)
Palet terakhir adalah inti dari geguritan: penjelasan mengenai tatwa (filsafat) dan kasuksman (spiritualitas) dari Galungan.
- Sinom menasihati agar setiap umat memahami makna sejati Galungan, bukan hanya ritual lahiriah.
- Ginada menggambarkan kedamaian batin yang muncul ketika dharma menang dalam diri manusia.
- Semarandhana memperhalus suasana, menghadirkan doa-doa penuh pengharapan.
- Jayendra menutup dengan nada agung, menegaskan bahwa kemenangan dharma adalah kemenangan universal yang harus dijaga selamanya.
Makna terdalam dari bagian ini adalah bahwa Galungan sejatinya adalah perang batin: pertempuran antara dharma (kebenaran) dan adharma (ketidakbenaran) dalam diri manusia. Kemenangan dharma bukan hanya ditandai dengan meriahya perayaan, melainkan dengan tercapainya keseimbangan, kesucian hati, dan ketenangan batin.
“Download Geguritan Galungan di Play Store”
Penutup
“Geguritan Galungan” adalah karya sastra Bali yang kaya, mendalam, dan penuh makna. Ia tidak hanya menceritakan dudonan upacara, tetapi juga menghubungkan tradisi Bali dengan akar spiritual Hindu di India, menggali makna filosofis kemenangan dharma, sekaligus menghadirkan suasana emosional yang kental melalui pupuh-pupuh tradisional.
Dengan panjang rangkaian pupuh, geguritan ini bisa dianggap sebagai ensiklopedia spiritual Galungan. Ia menjadi jembatan antara teks sastra, ritual keagamaan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Membaca “Geguritan Galungan” berarti menapaki jalan dharma, memahami arti kemenangan sejati, dan meneguhkan identitas budaya yang telah diwariskan sejak berabad-abad.
Galungan bukan sekadar hari raya. Ia adalah panggilan untuk selalu menjaga keseimbangan hidup, melawan adharma dalam diri, dan merayakan kemenangan dharma dalam setiap denyut kehidupan.



